BANYUMAS — Belajar sejarah tidak harus selalu dilakukan di dalam ruang kelas. Pada Rabu,  30 September  peserta didik kelas 5 dan 6 MI Modern Al Azhary mengikuti kegiatan Outing Class dengan menjelajahi sejumlah tempat yang memiliki nilai sejarah dan budaya di kawasan Kota Lama Banyumas.

Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat sejarah daerahnya sendiri, memahami warisan budaya, serta melihat secara langsung berbagai bentuk peninggalan dan aktivitas budaya yang selama ini mungkin hanya mereka kenal melalui buku pelajaran.

Mengusung semangat belajar, melihat, dan mengalami secara langsung, perjalanan diawali dengan mengenal sejarah Kota Lama Banyumas dan Babad Banyumas.

🏛️ Menelusuri Jejak Sejarah Kota Lama Banyumas

Di kawasan Kota Lama Banyumas, para siswa diajak mengenal perjalanan sejarah Banyumas dan memahami bagaimana kawasan tersebut menjadi bagian penting dari perkembangan wilayah Banyumas.

Dengan melihat langsung lingkungan dan bangunan bersejarah, siswa mendapatkan gambaran bahwa sejarah bukan sekadar rangkaian tahun dan nama tokoh yang harus dihafalkan.

Sejarah juga dapat dipelajari melalui tempat, bangunan, tradisi, serta cerita yang berkembang dari generasi ke generasi.

Para siswa menyimak penjelasan mengenai Babad Banyumas dan berbagai kisah sejarah yang berkaitan dengan perkembangan Banyumas.

“Ketika anak-anak datang langsung ke tempat bersejarah, mereka tidak hanya membaca tentang sejarah, tetapi dapat membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat pada masa lalu. Ini membuat pembelajaran sejarah menjadi lebih nyata dan menarik.”

Kunjungan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus kecintaan peserta didik terhadap sejarah dan budaya daerahnya sendiri.

🎨 Mengenal Batik dari Proses Membuatnya

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Rumah Batik Hadi Prayitno, Jalan Mruyung, untuk mengenal lebih dekat salah satu warisan budaya Indonesia, yaitu batik.

Di tempat ini, para siswa mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung proses pembuatan batik tulis dan batik printing.

Jika selama ini batik lebih sering mereka kenal sebagai pakaian atau kain bermotif, kali ini siswa dapat melihat bahwa di balik selembar kain batik terdapat proses kreatif dan keterampilan yang membutuhkan ketelitian serta kesabaran.

Para siswa mengamati perbedaan antara proses pembuatan batik tulis dan batik printing, mulai dari cara menghasilkan motif hingga proses pengerjaannya.

“Batik bukan hanya kain dengan motif yang indah. Di dalamnya ada keterampilan, ketelitian, kreativitas, dan warisan budaya yang perlu kita kenalkan kepada generasi muda.”

Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran kontekstual bagi siswa sekaligus mengenalkan mereka pada potensi budaya dan ekonomi kreatif yang berkembang di daerah Banyumas.

🏮 Belajar Sejarah Klenteng Tri Dharma

Destinasi berikutnya adalah Klenteng Tri Dharma. Di tempat ini, para siswa kembali mendapatkan pengalaman belajar sejarah dan budaya secara langsung.

Kunjungan dipandu oleh Humas Klenteng Tri Dharma, yang memberikan penjelasan kepada siswa mengenai sejarah berdirinya klenteng, perjalanan perkembangannya, serta berbagai hal yang berkaitan dengan keberadaan klenteng sebagai bagian dari sejarah dan keberagaman budaya di Banyumas.

Para siswa mendengarkan penjelasan dengan penuh perhatian dan mendapatkan kesempatan untuk mengenal salah satu peninggalan budaya yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Banyumas.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pembelajaran tentang pentingnya menghargai sejarah, keberagaman, dan warisan budaya yang ada di lingkungan sekitar.

“Mengenal sejarah dan budaya yang berbeda bukan berarti kita harus menjadi berbeda. Justru dari sana anak-anak belajar memahami, menghargai, dan hidup berdampingan dengan keberagaman yang ada di masyarakat.”

📚 Sejarah yang Tidak Hanya Dibaca, tetapi Dialami

Outing Class kelas 5 dan 6 MI Modern Al Azhary memberikan pengalaman belajar yang cukup beragam. Dalam satu perjalanan, siswa mendapatkan kesempatan untuk mempelajari sejarah Banyumas, Babad Banyumas, budaya batik, hingga sejarah Klenteng Tri Dharma.

Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi sumber belajar yang sangat kaya.

Guru tidak hanya berperan menyampaikan materi, tetapi juga mengajak siswa menemukan pengetahuan melalui pengalaman langsung.

“Anak-anak akan lebih mudah mengingat sesuatu ketika mereka melihat dan mengalaminya sendiri. Hari ini mereka belajar sejarah di tempatnya, melihat proses batik secara langsung, dan mendengarkan cerita sejarah dari narasumber. Pengalaman seperti inilah yang kami harapkan dapat menjadi pembelajaran yang berkesan.”

Bagi peserta didik, perjalanan ini bukan sekadar jalan-jalan. Mereka diajak untuk mengamati, mendengarkan, bertanya, memahami, dan menghargai berbagai peninggalan sejarah dan budaya yang ada di sekitar mereka.

🌿 Mengenal Banyumas, Menumbuhkan Rasa Bangga

Melalui kegiatan Outing Class ini, MI Modern Al Azhary terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Mengenal Kota Lama Banyumas berarti mengenal sejarah daerah sendiri. Melihat proses pembuatan batik berarti memahami salah satu warisan budaya. Sementara mengenal Klenteng Tri Dharma memberikan wawasan tentang keberagaman sejarah dan budaya yang tumbuh di Banyumas.

Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan yang diharapkan mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki rasa ingin tahu, kecintaan terhadap budaya, sikap menghargai keberagaman, serta kebanggaan terhadap daerahnya sendiri.

Karena sejarah akan terasa lebih bermakna ketika kita datang, melihat, mendengar, dan belajar langsung dari tempat yang menyimpan ceritanya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *